MERAPI ADALAH DIARY

Terima kasih untuk temanya, yang telah mainkan memori lama pada suatu masa. Saya masih benar-benar dapat merasakan. Hingga pada tulisan ini, saya tersadarkan lagi. Ah. Bayang-bayang yang kembali.

Saya masih lihat debu yang berserakan di pelataran masjid kampus, lengkap dengan perih saat terkena mata. Pun sangat sesak saat terhirup olehnya. Orang-orang masih bersujud tunduk ditengah kesemrawutan. Tak peduli dengan debu-debu yang bertebaran sana sini. Sebab debu-debu Merapi.

Memori tahun 2010. Saat kali pertama, saya mendapati erupsi. Kota yang dikepung abu. Rumah yang ditinggal oleh keramaian. Sesekali diselingi berita yang mengabarkan duka cita. Hilang sanak saudara, sudah biasa.

Saya masih berjalan melewati pelataran masjid kampus. “Open Recruitment FLP Yogyakarta Angkatan XII”, bacaan jelas yang kutemukan pada selembar kertas. Ingatan tertuju pada deretan novel-novel yang tak banyak kubaca disaat SMA. “Sastra islami”. Hanya itu yang bisa kutangkap sekadarnya.

Dear Diary…

Buku saku coklat hasil karangan saya. Ditemukan sejak pengumuman lolos seleksi sebagai anggota FLP Yogyakarta. Sampulnya berbahan kertas bekas, isi dari sisa kertas buram dan direkat dengan benang. Sebagai pemanis saja, bagian pinggir sengaja dihitamkan.

img_20160930_081710

Diary (dok.pribadi)

“4 Desember 2010. Kreativitas. Penuh gebrakan dan perbedaan. Membuat tulisan nyata memiliki nyawa. Memiliki kemampuan ini dari mengembangkan akal pikiran dan otak yang dimiliki. Empat kemampuan otak manusia. Menyerap. Menyimpan. Nalar. Mencipta …..”

Itu salah satu petikan. Ditulis saat pelatihan berlangsung sebagai rangkaian penerimaan anggota baru. Apa yang bisa kudapati dari pelatihan ini? Bahwa tak peduli dengan seberapa besar daya pikir atau imajinasi, maka terus saja tulis apa yang terjadi. Tak butuh teknik atau spesialisasi, maka tulis apa yang kau mau. Masalah tata baca, pilihan kata atau sejenisnya adalah sebagai penutup karya. Lanjut saja tuliskan pada pena atau tuts-tuts keyboard yang sudah terlanjut dimulai sejak awal. Ya, itu pelajarannya. Itu juga kata panitia.

Masih dengan diary, kami diminta untuk bercerita padanya. Bercerita apa saja. Jelas bahwa mengangguk dan mendengar pembicara bukan sajian utama. Itu juga instruksi panitia.

Pelatihan tak cukup sampai disini. Menulis disini bukan semangat yang dapat berkobar kapan saja selepas pelatihannya. Tapi, nikmati menulis dengan hati. Penulis yang jujur atas dirinya sendiri. Menulis yang dituntun bersama kalam-kalam Illahi. Maka, keajaiban tulisanmu akan terjadi. Bagian ini, giliran pembicara yang berkata.

Memulai menulis dengan kejujuran. Asah kepekaan. Tanpa beban. Bahwa sastra islami, dapat turut membuka dan mengembalikan fitrah manusia pada Sang Pencipta. Menuntun untuk turut membaca betapa agung apapun kalimatNya. Tak butuh pembuktian apakah saya bisa melakukan. Tapi teruslah menulis walau ketakutan kerap hadir ditengah-tengah tulisan. Sebagaimana tak butuh pembuktian bagaimana wujud Tuhan, hanya takut dicerca selera anak manusia.

Biarkan tulisan menari dalam goresan pena yang ternyata berlari. Walau hanya sebatas diary yang mengajarkan arti kejujuran pada setiap yang telah terjadi. Teruslah berlari, sebagaimana saat kau hindari gejolak Merapi diluar sana. Bahwa ketakutan, dapat menumbuhkan energi yang kita butuhkan.

Takutlah bahwa kesombongan, kebohongan dan kerusakan telah mendapatkan tempatnya sebagai ulah manusia. Maka sepantasnya, kita pun menjadi bagian yang betanggungjawab dalam tanam-tanam ketundukan, kejujuran dan perbaikan. Ya. Meski takwa, pun bisa kita gapai dengan tinta.

Aku dan FLP adalah memori, bahwa Merapi adalah sebuah diary.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s